Langsung ke konten utama

Cerita Pendakian

Wanita Penakluk
Bercerita tentang seorang wanita yang bernama Azwa. Dia memaknai hidup dari perjuangan yang dia lakukan. Azwa sangat berbeda dengan wanita lainnya. Dia lebih suka mengotori dirinya daripada berdandan seperti kebanyakan wanita lain. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menaklukkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan mana yang terindah. Semakin tinggi gunung yang ditaklukkan, semakin indah pemandangan yang dia dapatkan. Hingga pada suatu kesempatan, dia memutuskan untuk mendaki sebuah gunung yang amat tinggi. Dia merasa itulah gunung tertinggi yang pernah dia hadapi. Dia tiba di kaki gunung saat matahari mulai terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, sebuah benda yang biasa disebut carrier berdiri tegak. Saat ingin melangkah dalam hati Azwa ada ketakutan, hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasa pula, Azwa berusaha menenangkan hatinya. Setelah merasa cukup tenang, Azwa mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Saat langit mulai gelap Azwa pun mulai menyalakan senter. Tidak terasa, Azwa sudah mendaki seperempat dari gunung tersebut. Azwa melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, "Ah, masih belum jauh." Sambil terus melangkahkan kaki. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat Azwa panik, dan ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya membuat cahaya senter juga bergerak, menyadarkan ular tersebut akan kehadiran Azwa di sekitarnya. Ular tersebut memandang Azwa yang sedang berusaha tenang, dan ternyata ketenangan Azwa akhirnya membuat ular tersebut pergi. Azwa melanjutkan perjalanannya dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuat Azwa kehilangan tenaga. Kini Azwa sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat Azwa sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui, dan yang masih akan dia jalani.  Malam telah semakin pekat, namun tak berarti menakutkan. Bukankah memang yang pekat selalu menghangatkan. Seperti secangkir kopi. Sesaat kemudian Azwa mengeluarkan bekal dan mulai memakannya, setelah cukup makan dia kembali menyimpan sisa bekalnya dan kemudian dia mengeluarkan tenda dari carriernya dan mulai membentang tenda, setelah tenda terbentang dia pun tidur di dalamnya. Keesokan paginya dia terbangun. Azwa mulai berkemas dan mengumpulkan semangat, kembali pada motivasinya. Setelah cukup yakin, Azwa kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram. Sampailah Azwa pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana. Yang mungkin tewas saat mendaki gunung tersebut. Segera Azwa menjauh, dan Azwa membuka bekal dan terkejut. Tinggal sepotong roti di sana. Pikiran Azwa terguncang, takut akan kematian yang ada dalam benaknya. Namun saat memandang ke bawah, Azwa sadar, sudah terlalu jauh. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera Azwa menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan akan mendaki gunung tersebut sampai tuntas. Langkah-langkah Azwa terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Azwa terus berusaha, walau terjatuh beberapa Kali. Naik, naik, dan terus naik. Sampai Azwa melihat sebuah hamparan tanah datar, dan Azwa kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi Azwa mencoba buka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Azwa sampai di puncak gunung. Gunung tersebut telah takluk. Azwa mengucap syukur, dan dengan pasrah menyerahkan tubuh, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Debu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya dan batu gunung sebagai batu nisannya. Inilah marah kehidupan yang akan, atau sedang, atau mungkin yang struktural kita alami. Tetaplah berusaha, yakin pada tujuan hidup kita. Percaya itu dari setiap perjuangan akan ada hasil. Jadikan permainan kata-kata dapat menghargai hidup kita, dan makin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita. Yang akan menghargai setiap usaha dalam hidup kita sesuai harga yang telah Dia tentukan. Sampai akhirnya kita pergi dari dunia dengan kepuasan hidup, dan yang terutama kelepasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepadamu yang Misterius

Kepadamu yang misterius. Ntahlah apa maksudnya, kadang kau bersikap seolah-olah aku begitu penting untukmu, tapi bahkan kadang kau tak menganggap aku ada. Kadang kau begitu gencar mendekatiku tanpa ingin ada orang lain diantara kita, tapi kadang kau begitu jauh meninggalkanku. Aku bingung sebenarnya kita ini apa? Atau memang pada dasarnya kita bukan apa-apa? Mungkin begitu. Ya, sekarang aku sadar aku yang terlalu menganggap ini lebih. Padahal kenyataannya kau bersikap seperti ini kepada setiap wanita. Baiklah, terimakasih telah mematahkan hatiku saat aku baru saja menumbuhkan harapan terhadapmu. Terimakasih atas penghancuran yang amat meluluh lantahkan hatiku.